Rahasia Kesuksesan Zidane Dan Masa Depan Real Madrid

Rahasia Kesuksesan Zidane Dan Masa Depan Real Madrid  – Tak ada darah olahragawan di dalam diri Zinedine Zidane karena dia lahir dari keluarga yang hidupnya biasa-biasa saja di wilayah La Castellane, pinggiran utara Marseille.
Namun, siapa sangka, dari sanalah muncul seorang bintang besar yang kini menjadi legenda klub elite dunia, Real Madrid!
Ya, Zidane berhak menyandang predikat legenda setelah dia menuai prestasi besar bersama Madrid. Sebab, pria berkepala plontos berusia 44 tahun ini bersinar tidak hanya saat masih bermain, tetapi juga berlanjut ketika berstatus pelatih. Dua trofi Liga Champions yang dipersembahkan dalam dua musim terakhir menjadi bukti.
Pemilik nama asli Zinedine Yazid Zidane ini adalah seorang keturunan Aljazair. Orangtuanya, Smail dan Malika, berimigrasi ke Paris dari Desa Aguemoune di utara Aljazair pada tahun 1953, sebelum dimulainya perang Aljazair.
Mereka menetap di distrik utara Barbes and Saint-Denis, sebelum pindah ke La Castellane, yang merupakan tempat kelahiran Zidane pada 23 Juni 1972.
Ayah Zidane bekerja sebagai penjaga gudang dan penjaga malam di sebuah department store, sedangkan ibunya hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga.
Meskipun demikian, kehidupan mereka terbilang cukup nyaman menurut standar di Marseille, yang tingkat kejahatan dan penganggurannya tinggi.
 
Dari wilayah itu pula, Zidane mulai mengenal sepak bola. Pada usia lima tahun, dia bersama anak-anak tetangga bermain di Place Tartane, sebuah plaza yang berfungsi sebagai alun-alun utama di kompleks perumahan.
Ternyata, Zidane memiliki bakat yang hebat. Perjalanan kariernya terus meningkat karena setelah bermain untuk klub lokal, dia direkrut Cannes, kemudian pindah ke Bordeaux pada 1992.
Namanya kian beken setelah meraih penghargaan Ligue 1 Player of the Year pada 1996, sebelum pindah ke Juventus pada tahun tersebut.
Di Italia, karier Zidane bersinar cemerlang. Gaya bermainnya nan elegan dan penuh skill membuat semua orang berdecak kagum.

“Dia pemain yang spesial. Dia bisa membuat ruang di tempat yang sulit. Tak masalah di mana dia mendapatkan bola atau bagaimana bola datang kepadanya karena dia bisa keluar dari masalah. Imajinasi dan tekniknya menakjubkan,” demikian pujian yang dilayangkan rekan setimnya di Juventus, Edgar Davids.

Raihan dua gelar Serie A (1996-1997, 1997-1998) serta Piala Super Eropa 1996 dan beberapa trofi lainnya membuat Real Madrid tak ragu menggelontorkan 77,5 juta euro (sekitar Rp 1,152 triliun).

Status pemain termahal di dunia pun menjadi milik Zidane, yang datang setelah sepakat menandatangani kontrak empat tahun.

Madrid tidak salah pilih. Gelontoran dana nan fantastis pada saat itu dibayar lunas Zidane dengan persembahan gelar Liga Champions 2002, setelah dia mencetak gol spektakuler ke gawang Bayer Leverkusen.

Gol tendangan voli dengan kaki kiri Zidane itu membuat Madrid menang 2-1 dan gol tersebut termasuk yang terhebat dalam sejarah Liga Champions.

Setahun berselang, Zidane, yang kala itu berkolaborasi dengan Luis Figo di lini tengah, membawa Madrid juara La Liga. Gelar itu makin sempurna karena Zidane terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia untuk ketiga kalinya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *